Gaya Hidup
Mengenal “Hustle Culture”: Apakah cocok dengan kepribadianmu?
October 2, 2021

Penulis: Elizabeth Arindita Leonie Deviana

Trend kekinian yang semakin meluas di kalangan masyarakat, khususnya generasi milenial. Ya, hustle culture yang telah menjadi lifestyle di masa kini. Apa itu hustle culture? Hustle culture, sesuai namanya, adalah gaya hidup serba cepat. Rela menghabiskan waktu sehari-hari untuk bekerja dan memenuhi apapun yang diinginkan. Hilangnya waktu istirahat, kebersamaan dengan keluarga atau orang-orang terdekat, demi mengejar suatu tujuan individu. Tujuan dari gaya hidup seperti ini adalah untuk mencapai kesuksesan sebagai hasil dari sebuah kerja keras, mati-matian, setiap hari, kapanpun, dan dimanapun. 

Ilustrasi pekerjaan

Mindset seperti ini mulai terkenal sejak banyak perusahaan-perusahaan, seperti startup. Mereka dinilai memberikan dampak yang signifikan terhadap tingkat produktivitas karyawan-karyawannya. Apakah mereka cukup adil dalam mempekerjakan karyawan dengan waktu yang begitu padatnya. Sebagai contoh, di China ada yang dinamakan 9-9-6, yaitu kerja mulai pukul 9 pagi sampai 9 malam selama 6 hari seminggu. Salah satu penyebarannya pada saat wawancaranya Jack Ma ke Alibaba dan beliau mengatakan bahwa jika karyawan tidak bisa bekerja 9-9-6, apa gunanya mereka bekerja di Alibaba (source: liputan6.com). Pernyataan ini lantas menyebar hampir ke seluruh perusahaan di China. 

Ilustrasi pekerja hustle culture

Contoh kedua, di Jepang. Akibat kerja terlalu keras, karyawan-karyawan banyak yang collapse hingga meninggal. Menurut Mental Health Foundation UK, di Inggris, 14,7% pekerjanya mengalami gangguan kesehatan mental akibat bekerja terlalu keras dan dalam waktu yang panjang. Penelitian lainnya, seperti dalam sebuah penelitian dalam jurnal Occupational Medicine mengatakan bahwa orang dalam jam kerja lebih, berapapun usianya, cenderung mengalami gangguan kecemasan, depresi, serta gangguan tidur (source: fk.unair.ac.id).

Ilustrasi pekerja hustle culture

Di zaman sekarang, memang banyak sekali persaingan dalam menduduki sebuah status sebagai pekerja. Untuk memperoleh status tersebut, kita harus bekerja dan berusaha sebaik mungkin. Bukan hanya untuk itu, namun juga demi mendapatkan penghasilan yang lebih besar, sehingga kerap kali tidak mempedulikan situasi atau keadaan lain. Maka, tidak heran jika hustle culture ini semata-mata membuat stigma bahwa kesuksesan seseorang hanya diukur dari seberapa baik kemampuan finansialnya. 

Sebuah gaya hidup pasti memiliki dampak positif dan negatifnya, tergantung dari bagaimana cara kita memahaminya. Hustle culture memang bisa mendatangkan kesuksesan dalam waktu yang singkat, membuat kita menjadi lebih sigap dalam mengatasi sesuatu, membuat mental menjadi lebih kuat, dan meningkatkan produktivitas kita sehari-hari. Namun, lagi-lagi, dampak tersebut bisa didapatkan apabila kita tetap mengenal diri dan porsi kita. Jika kita tidak dapat mengenali diri sendiri, maka jika dipaksakan untuk mengikuti gaya hidup seperti ini justru akan melahirkan banyak dampak negatif seperti yang telah disebutkan di atas (setres, menurunnya kesehatan, hingga kematian). Oleh karena itu, perlu pemahaman beberapa hal di bawah ini :

1. Bekerjalah untuk hidup, bukan sebaliknya

Jangan sampai diperbudak oleh pekerjaan. Boleh mencapai totalitas yang diinginkan, namun tetap ada batas karena segala sesuatu ada porsinya.

2. Kesehatan adalah yang utama

Kualitas hidup juga dilihat dari seberapa sehat diri kita. Hal yang bagus apabila memang secara fisik, Anda kuat. Namun, pikirkan juga kesehatan mental dan emosional. Jangan sampai merasa tertekan untuk melakukan pekerjaan. Karena dalam diri yang sehat, kualitas diri juga akan meningkat.

Ilustrasi kesehatan

3. Sukses bukan hanya diukur dari materi

Definisi sukses adalah kemampuan untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginan diri kita. Melakukan hal yang terbaik sesuai porsi kita sudah bisa terbilang sukses. Jangan membandingkan diri dengan orang lain karena setiap orang memiliki takaran sendiri-sendiri untuk mencapai sesuatu yang merupakan tujuan hidupnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita mensyukuri segala sesuatu yang telah kita miliki. 

4. Luangkan waktu untuk beristirahat

Ilustrasi beristirahat

Bekerja bukan berarti tidak beristirahat. Ingat, tubuh kita juga bisa merasa lelah tanpa kita sadari. Jika terlalu dipaksakan, maka akan berdampak buruk di hari-hari depan saat kita menua.

5. Lakukan hobi

Kita tetap perlu hari libur dan melakukan hal yang kita senangi untuk menyegarkan kembali pikiran yang terbebani oleh banyak hal. Berkumpul dengan keluarga, teman-teman, dan aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan mental, sosial, dan fisik kita.

Ilustrasi melakukan hobi

Seperti yang kita ketahui, sebuah gaya hidup adalah suatu kebebasan setiap orang. Kita berhak memilih gaya hidup macam apa yang akan kita implementasikan dan pastinya, sesuai dengan porsi dan cara kerja kita masing-masing. Tidak salah jika Anda memilih gaya hidup seperti ini karena memang sesuai dengan kepribadian Anda, misalnya suka bekerja, gigih dan tekun, kuat, dan ingin segala sesuatunya berjalan dalam waktu yang cepat dan singkat. Tidak salah juga jika kepribadian Anda tidak cocok untuk bergaya hidup Hustle Culture karena lebih mementingkan konsep “Work Life Balance”, dimana semuanya teratur dan rata setiap porsinya. Jadi, ini semua kembali ke pilihan masing-masing dan kita sebagai manusia merdeka, tidak boleh memaksakan kehendak termasuk culture ke orang lain. Satu point penting terakhir adalah apakah Anda happy? Jika ya, lanjutkan, jika tidak, keluarlah dari situ.



Word count : 737 


REKOMENDASI

Connect With Us Spacers!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.